بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Oleh : Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ
الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا
أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan diri-diri kalian.
Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang
diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan
Allah, gangguan yang banyak lagi menyakitkan hati. Jika kalian bersabar
dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang
patut diutamakan.” [Ali ‘Imran: 186]
Ujian dan cobaan adalah
ketentuan Allah terhadap manusia. Ujian itu kadang terhadap harta, jiwa,
kehormatan, keagamaan, atau selainnya, serta kadang menimpa individu,
keluarga, masyarakat, atau suatu negeri.
Kita telah menyaksikan
berbagai musibah dan petaka yang meluluhlantakkan harta benda,
melayangkan jiwa-jiwa manusia, menghilangkan keamanan dan ketenangan,
mencentangperenangkan kegembiraan, serta berakhir dengan kepiluan, ratap
tangis, duka, dan nestapa. Prahara musibah dan petaka telah mendera
umat-umat sebelum kita, juga terjadi di tengah umat ini.
Namun,
bagi seorang mukmin, dalam ujian, cobaan, musibah, dan petaka, terdapat
berbagai renungan yang membawa makna, suatu ibadah yang mengantar
kepada jenjang keimanan dan ketakwaan, serta kepada pahala dan
keutamaan. Itulah dua kaidah yang terkandung dalam ayat, “Jika kalian
bersabar dan bertakwa.”
Kaidah kesabaran yang menunjukkan
kerelaan terhadap ketentuan Allah, penjagaan diri di atas batasan
syari’at, dan menghindari segala sebab yang mendatangkan kemurkaan
Allah.
Kaidah ketakwaan yang membawa kepada penataan diri dan
pembenaan jiwa, untuk merenungi sejauh mana dia telah melaksanakan
perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
Jangan
telantarkan suatu ujian tanpa berhias sabar dan takwa, jangan lewatkan
kesempatan meraih pahala dalam segala keadaan, termasuk dalam kondisi
teruji suatu cobaan. Waffaqallah Al-Jamî’ li Yurdhih.
Sumber : http://dzulqarnain.net/memang-telah-menjadi-ketentuan-allah.html
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Kalian sungguh-sungguh akan diuji terhadap harta dan diri-diri kalian. Dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak lagi menyakitkan hati. Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” [Ali ‘Imran: 186]
Ujian dan cobaan adalah ketentuan Allah terhadap manusia. Ujian itu kadang terhadap harta, jiwa, kehormatan, keagamaan, atau selainnya, serta kadang menimpa individu, keluarga, masyarakat, atau suatu negeri.
Kita telah menyaksikan berbagai musibah dan petaka yang meluluhlantakkan harta benda, melayangkan jiwa-jiwa manusia, menghilangkan keamanan dan ketenangan, mencentangperenangkan kegembiraan, serta berakhir dengan kepiluan, ratap tangis, duka, dan nestapa. Prahara musibah dan petaka telah mendera umat-umat sebelum kita, juga terjadi di tengah umat ini.
Namun, bagi seorang mukmin, dalam ujian, cobaan, musibah, dan petaka, terdapat berbagai renungan yang membawa makna, suatu ibadah yang mengantar kepada jenjang keimanan dan ketakwaan, serta kepada pahala dan keutamaan. Itulah dua kaidah yang terkandung dalam ayat, “Jika kalian bersabar dan bertakwa.”
Kaidah kesabaran yang menunjukkan kerelaan terhadap ketentuan Allah, penjagaan diri di atas batasan syari’at, dan menghindari segala sebab yang mendatangkan kemurkaan Allah.
Kaidah ketakwaan yang membawa kepada penataan diri dan pembenaan jiwa, untuk merenungi sejauh mana dia telah melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
Jangan telantarkan suatu ujian tanpa berhias sabar dan takwa, jangan lewatkan kesempatan meraih pahala dalam segala keadaan, termasuk dalam kondisi teruji suatu cobaan. Waffaqallah Al-Jamî’ li Yurdhih.
Sumber : http://dzulqarnain.net/memang-telah-menjadi-ketentuan-allah.html
01.01
Ummu Ulfa

Posted in
No Response to "Memang Telah Menjadi Ketentuan Allah"
Posting Komentar